google-site-verification=hcNyhLjb9xXzMljNO5yHFNvhh8eozakMzewUIfaMYyE
Blog Image

Blog

Bukan Hanya Selamat Makan, Inilah Makna Itadakimasu yang Sesungguhnya

October 23, 2019
/
Info
Bukan Hanya Selamat Makan, Inilah Makna Itadakimasu yang Sesungguhnya image

Via jpninfo.com



Bagi penggemar hal-hal tentang Jepang, pasti pernah mendengar ‘itadakimasu’, apalagi di dalam anime-anime. Sering kali itadakimasu ini diterjemahkan ‘selamat makan’ karena memang diucapkan sebelum makan. Namun, tahukah kamu bahwa itadakimasu punya makna yang lebih mendalam dari sekadar arti 'selamat makan'?



Makna

Via kimajime.com

'itadaku' merupakan bahasa yang sangat sopan dari kata 'menerima'. Secara tradisional, itadakimasu digunakan untuk menerima sesuatu dari seseorang yang lebih tinggi dari kita, dilihat dari kedudukannya. Sehingga, arti harfiahnya secara sopan adalah 'saya dengan rendah hati menerima'.

Mayoritas penduduk Jepang menganut ajaran Buddha. Itadakimasu terkait dengan prinsip-prinsip Buddhisme untuk menghormati semua makhluk hidup. Itadakimasu dimaksudkan untuk mengucapkan terima kasih kepada hewan dan tumbuhan yang menyerahkan hidup mereka untuk dimakan. Ini juga dimaksudkan untuk berterima kasih kepada semua orang yang berperan dalam membawa makanan ke meja, termasuk nelayan, petani dan koki.



Sejarah

Japanese children

Via iromegane.com

Penggunaan itadakimasu dipercaya mulai populer ketika Perang Dunia II, yang sering digunakan oleh media-media massa. Bahkan bisa dikatakan sangat populer di budaya modern Jepang.

Banyak keluarga yang mengucapkannya sebelum makan, dan kian hari makin populer hingga diterima di seluruh Jepang. Apalagi setelah kehancuran yang diakibatkan oleh perang yang menyebabkan kelangkaan makanan pada pertengahan 1940-an, mengucapkannya jadi bermakna rasa syukur bagi mereka.



Penggunaan

Itadakimasu

Via tofugu.com

Itadakimasu umumnya dikatakan tepat sebelum makan. Tapi sebelum itu kita harus bertepuk tangan kecil (gassho) dan menundukkan kepala sedikit ketika mengucapkannya, lalu setelah itu kita dapat mulai menyantap makanannya.

Perlu diketahui, akhir-akhir ini tidak semua orang Jepang mengucapkan itadakimasu karena beberapa orang merasa ada terlalu banyak pengaruh religius di baliknya.

Lalu, bagaimana dengan kita sebagai pendatang? Haruskah melakukan tradisi ini?

Sebagai wisatawan yang menghargai budaya negara yang kita datangi, sebaiknya kita juga ikut berpartisipasi dalam melestarikan tradisi ini. Lagipula, tidak sulit untuk dilakukan, kan?

Via tofugu.com

Perlu diingat juga bahwa tradisi di Jepang menganggap boros apabila kita tidak menghabiskan dan menyisakan makanan kita. Hal ini terkait dengan filosofi Buddha yaitu semua kehidupan adalah suci karena hewan dan tumbuhan dengan sukarela merelakan hidupnya untuk menjadi santapan kita atau dalam tradisi Indonesia biasa disebut “mubazir”. Untuk itu, usahakan jangan sampai menyisakan makananmu ya, kecuali kamu sudah benar-benar tak sanggup menghabiskannya!



Sumber:

japanesestation.com
nihongoshark.com