google-site-verification=hcNyhLjb9xXzMljNO5yHFNvhh8eozakMzewUIfaMYyE
Blog Image

Blog

Sistem Pendidikan yang Unik di Negeri Sakura

April 14, 2020
Sistem Pendidikan yang Unik di Negeri Sakura image

Berbicara tentang sistem pendidikan di dunia memang tidak ada habisnya dan tiap negara memiliki sistem pendidikan tersendiri untuk mengembangkan sumber daya yang dimilikinya. Sistem pendidikan terbaik di Asia salah satunya adalah negara Jepang, mengapa? Karena tidak hanya dari kondisi ekonomi yang baik namun sistem pendidikan di Jepang ini terbukti telah melahirkan individu dengan kualitas yang baik juga. Tidak hanya itu, Jepang juga sudah terkenal akan budaya dan orang-orangnya yang intelektual, hidup sehat dan sopan.

Sekolah di Jepang dan sekolah di negara barat sebenarnya sama saja, terdapat seragam, sistem ujian dan kelas lho. Namun, dalam Pendidikan Jepang, norma sopan santun adalah hal yang sangat diutamakan dan wajib ditanamkan pada siswa-siswi nya sejak berada di bangku sekolah.

 

Lalu, apa saja sih sistem pendidikan di Jepang yang membuatnya beda dengan yang lain? Yuk mari kita bahas!

1. Tatakrama adalah Segalanya dan Diajarkan sejak Sekolah Dasar

Di sekolah dasar Jepang, pendidikan dasar yang paling utama adalah mengembangkan norma dan karakter, bukan menilai dari kemampuan belajar atau tingkat pemahaman tentang pelajaran. Dalam 3 tahun pertama sekolah dasar, penting sekali mengembangkan perilaku, gaya hidup dan kepribadian. Menghormati orang lain, menjadi dermawan, memahami perasaan orang lain, memiliki empati, bersikap adil, mengontrol perasaan dan welas asih terhadap manusia, hewan dan alam. Benar, inilah pendidikan karakter!

Oh iya, di sekolah dasar Jepang, murid-murid tidak mendapatkan ujian sejak 3 tahun pertama. Ujian yang mereka terima hanya ujian sederhana dan bukan penentu utama perkembangan akademis mereka.

2. Tahun Ajaran Baru di Jepang mulai pada 1 April

Di Indonesia, kalian pasti sudah tahu ya kapan tahun ajaran baru dimulai? Yap betul, tahun ajaran baru di Indonesia yaitu pada bulan Juli. Jika di Jepang, tahun ajaran baru selalu dimulai pada bulan April lho, tepatnya tanggal 1! Mengapa ya?

Alasan yang pertama yaitu karena upacara pembukaan sekolah ini bertepatan dengan fenomena alam yang paling indah yaitu saat musim bunga sakura, sehingga para murid-murid akan menyaksikan pemandangan indah selama di perjalanan ketika masuk sekolah.

Dan alasan yang kedua adalah tahun akademik di Jepang ini dibagi dalam trisemester, yaitu: 1 April - 20 Juli, 1 September - 26 Desember, dan 7 Januari - 25 Maret. Sehingga para siswa mendapatkan 6 minggu liburan selama musim panas dan mereka juga memiliki istirahat dua minggu di musim dingin dan musim semi.

3. Tidak Ada Petugas Kebersihan

Di sekolah Jepang, semua murid bertanggung jawab untuk membersihkan ruang kelas, kantin, dan bahkan toilet sendiri. Saat membersihkan, siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Karena, sistem pendidikan Jepang percaya bahwa dengan memberikan siswa tanggung jawab seperti ini, mereka dapat belajar bagaimana bekerja dengan team dan dapat membantu sesama. Selain itu, ketika waktunya dihabiskan untuk menyapu, mengepel dan yang lainnya ini, mereka bisa belajar menghargai hasil pekerjaan sendiri dan orang lain dengan cara yang sederhana tersebut.

4. Semua Orang Makan Menu yang Sama dan di Tempat yang Sama

Sistem pendidikan Jepang sangat memperhatikan makanan yang sehat dan bergizi untuk dimakan oleh para siswa nya ketika makan siang. Sampai-sampai, pihak sekolah benar benar memilih koki yang professional dan menyewa ahli  gizi agar gizi para muridnya terpenuhi. Tentu saja masalah menu makan bukan hanya sekedar main-main, lho. Selain itu, murid juga diberi kesempatan untuk makan bersama di kelas beserta sang guru agar hubungan di sekolah semakin baik.

5. Kaligrafi dan Haiku selain Mata Pelajaran Utama

Walaupun sudah menjadi negara maju, Jepang tetap menjaga kebudayaan mereka. Para murid di Jepang belajar kaligrafi dan haiku selain mata pelajaran umum lho, teman teman. Nah, apa sih kaligrafi dan haiku itu?

Bagi orang Jepang, kaligrafi atau “Shodo” sama populernya dengan lukisan tradisional dan ditulis dengan menggunakan kuas dari bambu yang dicelupkan pada tinta. Sedangkan, Haiku adalah puisi yang memiliki makna sangat mendalam dan mengesankan pembaca dengan ekspresi sederhana, biasanya terdiri dari 3 frase dan 17 suara (5, 7, dan 5). Dengan adanya kedua kelas ini, agar para murid di Jepang dapat menghormati budaya dan tradisi kuno mereka.

6. Penggunaan Seragam

Para siswa dasar di Jepang tidak menggunakan seragam lho, hal ini untuk memberikan kenyamanan pada anak-anak selama berada di sekolah. Tetapi, ketika masuk ke tingkat menengah dan atas, mereka akan menggunakan seragam. Penggunaan seragam ini bertujuan agar tidak ada batasan antar siswa dan seragam sekolah juga bisa dianggap sebagai kebanggaan para siswa. Model seragam tradisional di beberapa sekolah Jepang ini mirip dengan kostum pelaut ya!.

7. Tingkat Kehadiran Siswa-Siswi di Jepang 99%

Di Jepang, sangat jarang siswa-siswi yang bolos lho, teman-teman. Jangankan untuk bolos, para murid yang tidak memperhatikan guru saat proses belajar mengajar juga sangat jarang ditemukan dan mereka tidak pernah mengabaikan apa yang diajarkan oleh guru mereka ketika belajar di kelas.

8. Mengikuti Les setelah Belajar di Sekolah

Agar dapat diterima di SMP atau SMA favorit, murid-murid di Jepang sudah terbiasa mengikuti les tambahan atau bimbingan belajar setiap harinya di sore atau malam hari. Bahkan les tambahan ini juga tetap dilakukan saat akhir pekan dan hari libur lho. Tetapi, ini merupakan hal yang sangat lumrah terjadi di Jepang dan tidak mengherankan jika siswa-siswi nya tidak pernah mengulang nilai atau mengulang kelas di sekolah dasar, menengah pertama, atau menengah atas.

9. Ujian Akhir Penentu Masa Depan

“Examination Hell” atau ujian neraka, julukan untuk ujian akhir nasional (UAN) bagi para siswa menengah atas di Jepang. Mengapa ya sampai sampai dijuluki “Examination Hell”?

Alasannya yaitu karena ujian akhir ini menentukan masa depan mereka.  Nilai dari ujian akhir ini digunakan tidak hanya sebagai kelulusan namun juga syarat untuk masuk ke perguruan tinggi. Saking ketatnya ujian ini, para siswa sekolah menengah atas ini benar-benar mempersiapkannya dengan matang. Setiap perguruan tinggi memiliki standard nilai masing-masing dan bila siswa tersebut tidak bisa mencapainya, maka bisa saja mereka tak meneruskan pendidikan. Menurut data statistik, hanya 76% lulusan SMA yang dapat melanjutkan ke tingkat lebih tinggi setelah ujian tersebut. Itulah mengapa kemudian mereka menjuluki ujian ini sebagai “Examination Hell”.

10. Tahun Kuliah adalah "Hari Libur”

Setelah melewati “Examination Hell”, para mahasiswa di Jepang biasanya mengambil sedikit istirahat. Karena beban pendidikan di Jepang yang terberat adalah saat menengah atas, maka perguruan tinggi sering dianggap sebagai tahun terbaik dalam hidup seseorang. Oleh karena itu bagi mereka yang berhasil masuk perguruan tinggi merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa. Dan sebelum masuk ke dunia kerja yang sangat ketat, para mahasiswa benar-benar menikmati masa-masa selama kuliah, oleh karena itu tahun kuliah sering disebut sebagai “liburan hidup” dan “liburan” sebelum bekerja.

 

Nah, itulah seputar sistem pendidikan di Jepang. Jadi, apakah kalian terkesan dengan sistem pendidikan di Jepang ini?

Sumber : 

jpninfo

boombastis

peneladan

jogja.tribunnews

grapee