google-site-verification=hcNyhLjb9xXzMljNO5yHFNvhh8eozakMzewUIfaMYyE
Blog Image

Blog

Suasana Bulan Ramadhan di Jepang

April 27, 2020
/
Info
Suasana Bulan Ramadhan di Jepang image

Di Indonesia, bulan Ramadhan terasa sangat istimewa dan merupakan bulan yang sangat ditunggu-tunggu. Pada bulan Ramadhan ini, untuk membangunkan warga, di masjid masjid ramai dengan suara speaker dan di beberapa daerah banyak pemuda yang berkeliling saat sahur yang berteriak “Sahur … sahur” dengan menggunakan bedug, drum ataupun galon. Ketika sore hari, di sepanjang jalan akan ramai bazaar makanan untuk berbuka puasa dan setelah berbuka puasa, suasana masjid akan lebih semarak karena adanya sholat tarawih bersama. Dan saat yang paling menyenangkan adalah saat lebaran yaitu saat berkumpulnya dengan keluarga.

  

Di Jepang, berpuasa biasa disebut dengan Danjiki, istilah ini mengacu pada biksu Buddha Jepang yang berarti untuk tidak makan dan minum. Walaupun mayoritas penduduk Jepang ini beragama Buddha dan Shinto, tetapi toleransi antar umat beragama sangat tinggi sekali. Masyarakat Jepang sangat menghargai dan memberi kebebasan untuk beribadah, salah satunya adalah menjalankan puasa Ramadhan.

Nah, lalu bagaimana sih suasana Ramadhan di Negeri Sakura ini?

1. Berpuasa selama 16 – 17 Jam

Karena bulan Ramadhan di Jepang bertepatan dengan musim panas sehingga matahari terbit lebih awal dan terbenam lebih lama, jadi bisa kalian bayangkan betapa lamanya waktu berpuasa di Jepang ini kan? Menurut Islamic Finder, contohnya daerah Sapporo sahur dilakukan sebelum jam 02:00 dini hari karena pada jam 02:31 sudah adzan Shubuh, sedangkan waktu berbuka puasa (Maghrib) adalah jam 18:30 malam, jadi setidaknya waktu berpuasa di Jepang yaitu selama 16-17 jam. Nah, sementara itu, waktu Isya baru masuk sekitar 20:30 malam sehingga tarawih dimulai jam 21:00 malam dan selesai sekitar jam 22:00 malam.

2. Berkumpul di Islamic Center

Di Jepang, dalam menyambut bulan Ramadhan, masyarakat muslim di Jepang akan berkumpul di Islamic Center Jepang yang terletak di Tokyo. Mereka kemudian membentuk sebuah kepanitiaan yang akan bertugas selama 1 bulan puasa, tugasnya yaitu menyusun berbagai acara yang akan dilaksanakan saat bulan Ramadhan berlangsung. Nah, apa aja sih acaranya? Selama bulan Ramadhan ini biasanya mereka mengadakan dialog keagamaan, menentukan jadwal shalat berjama’ah, buka puasa bersama, sampai membagikan buku-buku keagamaan yang berguna untuk memperdalam ilmu agama di sana.

3. Berbuka Puasa Bersama

Ketika Ramadhan tiba, masjid -masjid di Jepang menyajikan makanan khas dari berbagai negara secara gratis untuk menu berbuka. Contohnya adalah di aula bawah Masjid Tokyo Camii, di sana kalian akan berbaur dengan umat muslim antar negara dan mencicipi makanan khasnya, tetapi menu makanan yang akan kamu dapatkan lebih cenderung ke makanan khas Timur Tengah seperti Arab dan Turki. Selain itu, ada juga makanan western berupa Spaghetti dan Makaroni.

Setelah berbuka puasa, para jema’ah akan berkumpul untuk Shalat Maghrib, Isya dan Tarawih serta mendengarkan ceramah.

4. Aktifitas Berjalan seperti Biasa

Nah, perbedaan bulan Ramadhan di Jepang dengan Indonesia adalah masyarakat muslim tetap bekerja karena tidak ada hari libur sekalipun saat hari H lebaran, oleh karena itu masyarakat muslim di Jepang meminta kepastian tanggal lebaran demi mengajukan cuti agar bisa berkumpul dengan keluarga. Lalu toko, restoran, bar dan sebagainya tetap beroperasi seperti biasa dan kita juga akan melihat banyak orang makan dan minum di depan umum. Tetapi, tidak jarang juga masyarakat Jepang yang bertanya apakah tidak apa-apa bekerja sambil berpuasa, atau bolehkah mereka makan dan minum disamping orang yang berpuasa. Tentunya setelah dijelaskan, mereka dapat mengerti.

 

Nah, itulah sekilas tentang bagaimana suasana Ramadhan di Jepang. Jadi, apakah kalian tertarik untuk merasakan bulan Ramadhan di Negara Samurai ini?